di sini caranya... klik
Minggu, 12 Juni 2016
cara budidaya loncang
Author: toko BHS
| Posted at: 09.40 |
Filed Under:
pertanian
Untuk orang Indonesia, persyaratan dari daun bawang tampaknya tidak akanselesai tidak. sebagai hasil dari tanaman yang umum digunakan dalammasakan Indonesia. Selain itu, pada acara-acara besar lebar tersebut.Sebagian besar orang Indonesia dapat merasa kurang jika tidak menggunakanbawang daun dalam memasak. Oleh karena itu, budidaya bawang perai masihdikembangkan.
Biasanya, daun bawang bisa gaya tambahan lezat ketika ditambahkan ke dalam sayuran di samping kentang dan opor ayam Kupat. Mengingatpentingnya daun bawang, itu akan menjadi tambahan yang berguna untukmemahami bagaimana bibit bawang prei, dalam bahasa Latin disebut sebagaisebutanAllium fistulosum L., yang dibudidayakan.
Nama Latin: Allium fistulosum L.
Nama Inggris: Welsh onion
Famili : LILIACEAE
1. Cultivar
Rp (Lokal Cipanas), Fragrant, Miranda, Freda, Lorie,
Linda
2. Pembibitan dengan Persemaian
- Benih disemaikan dalam bedengan dengan lebar 100-120 cm dan panjang lahan. Tanah diolah sedalam 30 cm campur pupuk kandang yang telah diayak sebanyak 2 kg/m.
- Bedengan diberi atap plastik bening setinggi 100-150 cm di sisi Timur dan 60-80 cm di sisi Barat.
- Benih ditaburkan di dalam larikan melintang sedalam 1 cm dengan jarak antar larikan 10 cm.
- Tutup dengan daun pisang/karung goni basah.
- Setelah berkecambah penutup dibuka.
- Penyiraman setiap hari.
- Tanaman dipupuk dengan pupuk daun sebanyak 1/3 - 1/2 dosis anjuran dengan cara semprot (umur 1 bulan).
- Bibit berumur 2 bulan dengan ketinggian 10-15 cm siap dipindah tanamkan.
Pembibitan dari Anakan
- Rumpun yang akan dijadikan bibit berumur 2,5 bulan dan sehat.
- Rumpun dibongkar bersama akarnya, bersihkan tanah yang menempel dan akar/daun tua.
- Pisahkan rumpun sehingga didapatkan beberapa rumpun baru yang terdiri atas 1-3 anakan.
- Buang sebagian daun.
- Bibit disimpan di tempat lembab dan teduh selama 5-7 hari.
3. Pengolahan Lahan
- Pengolahan lahan dilakukan 15-30 hari
sebelum tanam.
Pembedengan untuk tanah sawah/tanah darat (lahan kering):
Pengapuran dilakukan jika tanah ber-pH < 6.5 dengan 1-2 ton/ha
kapur dolomit dicampur merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm.
- Bersihkan areal dari gulma dan batu/kerikil.
- Olah tanah sedalam 30-40 cm hingga gembur.
- Buat parit untuk pemasukan dan pengeluaran air.
- Buat bedengan selebar 80-100 cm, tinggi 30 cm dengan lebar antar bedengan 25-30 cm.
- Campur merata dengan tanah, 10-15 ton/ha pupuk kandang dan ratakan permukaan bedengan.
Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan disajikan pada Tabel
4. Penanaman
- Biasanya ditanaman dengan pola tanam tumpang sari.
- Bibit ditanam di antara tanaman utama yang berumur lebih panjang dari bawang daun.
- Sebelum kanopi tanaman utama saling menutup, bawang daun harus sudah dipanen.
- Sistem tumpang sari yang sekarang banyak ditanam adalah dengan tanaman cabe, wortel dan sayuran daun lain.
- Waktu tanam terbaik awal musim hujan (Oktober) atau awal kemarau (Maret).
- Lubang tanam dibuat pada jarak 20 x 20 cm sedalam 10 cm. Sebelum penanaman, bibit dari persemaian dicabut dengan hati-hati, sebagian akar dan daun dipotong.
- Sebagian akar dari bibit dari rumpun induk juga dibuang.
- Rendam dalam larutan fungisida konsentrasi rendah (30-50 prosen dari dosis anjuran) selama 10-15 menit.
- Tanam bibit dalam lubang dan padatkan tanah di sekitar pangkal bibit pelan-pelan.
5. Pemeliharaan
- Penyulaman paling lama 15 hari setelah tanam.
- Gulma disiangi dua kali, yaitu umur 3-4 minggu dan 6 minggu dengan cangkul/kored.
- Pembubunan bagian dasar tunas selama 4 minggu sebelum panen
- Potong tangkai bunga dan daun tua untuk merangsang pertumbuhan anakan.
- Siram 2 kali sehari
- Tidak boleh becek/terlalu basah.
- Penyemprotan pestisida gunakan jika perlu /jika sudah ada tanda-tanda awal munculnya hama dan penyakit.
Hama dan Penyakit
- Ulat bawang/ulat grayak (Spodoptera exiqua Hbn.) Pengendalian: cara pergiliran tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan pengendalian kimia dengan Hostathion 40 EC, Orthene 75 SP, Cascade 50 EC atau dengan perangkap ngengat.
- Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.) Pengendalian mekanis: mengumpulkan ulat di malam hari, menjaga kebersihan kebun dan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae. Pengendalian kimia: umpan beracun yang dipasang di malam hari berupa campuran 250 gram Dipterex 95 Sl 125, 10 kg dedak dan 0,5 gram gula merah dan dilarutkan dalam 10 liter air; Insektisida berupa Dursban 20 EC atau Hostahion 40 EC.
- Thrips/kutu loncat/kemeri (Thrips tabbaci Lind.) Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliaceae; menanam secara serempak; memasang perangkap serangga berupa kertas/dengan insektisida Mesurol 50 WP.
- Bercak ungu (Alternaria porri (Ell.) Cif.) Pengendalian: cara perbaikan tata air tanah, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan menggunakan bibit sehat. Fungisida yang digunakan adalah Antracol 70 WP, Dithane M-45, Orthocide 50 WP atau Difolatan 4F.
- Busuk daun/embun tepung (Peronospora destructor (Berk.) Casp) Pengendalian: menggunakan benih/bibit sehat, rotasi tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan fungisida Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 SP.
- Busuk leher batang (Bortrytis allii Munn.) Gejala: leher batang menjadi lunak, berwarna kelabu, bentuknya menjadi bengkok dan busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliacea, penggunaan benih/bibit sehat, meningkatkan kebersihan kebun dan tanaman dan fungisida Dithane M-45 atau Daconil 75 WP.
- Antraknose (Collectotrichum gleosporiodes Penz.) Gejala: daun bawah rebah, pangkal daun mengecil dan tanaman mati mendadak. Pengendalian: menggunakan bibit/benih sehat, perbaikan tata air, rotasi tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae, mencabut tanaman yang sakit dan fungisida Antracol 70 WP dan Daconil 75 WP.
6. Panen
- Umur Panen 2,5 bulan setelah tanam.
- Jumlah anakan maksimal (7-10 anakan), beberapa daun menguning.
- Seluruh rumpun dibongkar dengan cangkul/kored di sore hari/pagi hari.
- Bersihkan akar dari tanah yang berlebihan.
7. Pascapanen
- Bawang daun kumpulkan di tempat yang teduh, dicuci bersih dengan air mengalir/disemprot, lalu ditiriskan.
- Diikat dengan tali rafia di bagian batang dan daunnya.
- Berat tiap ikatan 25-50 kg.
- Daun bawang disortir berdasarkan diameter batang: kecil (1,0-1,4 cm) dan besar (1,5-2 cm)
- Lalu dicuci dengan air bersih yang mengalir/disemprot dan dikeringanginkan.
- Ujung daun dipotong sekitar 10 cm.
- Simpan pada temperatur 0,8-1,4o C sehari semalam untuk menekan penguapan dan kehilangan bobot
- Pengemasan di dalam peti kayu 20 x 28 cm tinggi 34 cm yang diberi ventilasi dan alasnya dilapisi busa. Atau di dalam keranjang plastik kapasitas 20 kg.
Selasa, 12 April 2016
Sabtu, 09 April 2016
Jangan sepelekan enceng gondo ! bisa buat pupuk organik
Semua pasti sudah mengenal jenis tanaman air yang mengapung ini, dialah enceng gondok. Dalam hal budidaya ikan, ia mampu mengendalikan pertumbuhan ganggang, mengurangi jumlah sinar matahari yang masuk ke kolam, dan bisa melindungi anak ikan terhadap serangan binatang atau hama lainnya.
Selain bermanfaat dalam proses budidaya ikan, siapa sangka eceng gondok pun mampu menyuburkan tanaman lho! Menurut hasil riset, tanaman eceng gondok banyak mengandung asam humat, artinya ia bisa dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman. Senyawa itu menghasilkan fitohormon yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Selain itu eceng gondok juga mengandung asam sianida, triterpenoid, alkaloid dan kaya kalsium.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pupuk eceng gondok adalah memastikan tidak adanya kandungan logam berat seperti timah hitam dan merkuri pada tanaman eceng gondok. Hindari pemanfaatan eceng gondok yang berasal dari kolam-kolam pengolahan air limbah pabrik yang menghasilkan limbah logam berat.
Secara sederhana, cara pembuatan pupuk organik berbahan eceng gondok menggunakan Trichoderma adalah sebagai berikut:
Bahan dan Alat :
- 1000 kg eceng gondok (dapat dicincang atau digiling halus jika ingin mendapatkan kompos ‘halus’)
- 5 kg biofungisida dan dekomposer alami (bisa juga menggunakan trichoderma)
- 2 buah pagar bambu berukuran panjang 1 meter, tinggi 1½ meter
- 2 buah pagar bambu berukuran panjang 2 meter, tinggi 1½ meter
Cara Pembuatan :
- Rangkai pagar bambu berbentuk ‘kandang’ berukuran 1 x 2 x 1½ meter sebagai tempat pembuatan kompos
- Masukkan eceng gondok
- Lakukan pemadatan dengan cara menginjak-injak tumpukan hingga setinggi ±20Cm
- Taburkan biofungisida dan dekomposer alami secara merata di atas tumpukan
- Masukkan kembali eceng gondok
- Lakukan pemadatan dengan cara menginjak-injak tumpukan hingga timbunan bertambah tinggi ±20Cm
- Taburkan biofungisida dan dekomposer alami secara merata di atas tumpukan
- Ulangi cara di atas sampai timbunan eceng gondok setinggi 60-1 meter
- Tutup timbunan dengan plastik
- Pada hari ke dua, suhu timbunan akan mulai meningkat
- Proses pembuatan kompos pupuk selesai setelah 14 hari dan suhu telah turun menjadi ± 30 °C
Sebagai catatan, pagar bambu yang menjadi ‘cetakan’ dapat dilepaskan pada saat proses penutupan timbunan dengan plastik untuk digunakan pada pembuatan timbunan berikutnya (jika material eceng gondok lebih dari 1 ton). Selain itu, penutupan plastik pada material bertujuan untuk menciptakan temperatur ‘tinggi’ yang diperlukan untuk mempercepat proses pelapukan. (sumber: http://www.jitunews.com/read/14093/yuk-buat-pupuk-organik-dari-eceng-gondok)
Langganan:
Komentar (Atom)